Archive for the ‘SOROT TRIBUN JABAR’ Category

Saya Berdoa Semoga Pak Harto Sembuh

21 January, 2008

Saya Berdoa Semoga Pak Harto Sembuh

Andi Asmadi
Tribun Jabar

BANYAK yang bilang, mantan Presiden RI, Soeharto, sakti. Sudah sempat berhenti nafasnya, ia bisa tetap hidup sampai sekarang. Sudah berkali-kali kritis, ia bisa membaik kembali. “Luar biasa,” kata tim dokter yang hingga Selasa (22/1) ini sudah 19 hari merawatnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta.

Apakah benar Pak Harto –saya lebih suka menyebut sapaan ketimbang menulis utuh namanya– memiliki kesaktian? Wallahua’lam. Tapi, dengan berkali-kali sakit, kritis, bahkan dikabarkan sudah sempat berhenti nafasnya, penguasa Orde Baru ini boleh jadi sudah pernah menapak ke kondisi near death experience (NDE, pengalaman menjelang ajal).

Untuk merasakan NDE, tak perlulah sesakti Pak Harto. Orang biasa sekali pun kerap mengalaminya, meski tak banyak. Kondisi yang biasa disebut mati suri ini diartikan, secara fisik organ- organ sudah tak berfungsi tetapi ruh masih terkait ke tubuh, dan seseorang yang menjalaninya bisa kembali ke kehidupan normal.

Pada kondisi tertentu, seseorang yang mengalami NDE mengalami pula out of body experience (OBE). Ini adalah keadaan di mana seseorang tiba-tiba merasa keluar dari tubuh (disembodiment) dan bisa melihat wujud fisiknya dari jarak tertentu (autoscopy). Bahkan, orang-orang di sekitarnya pun ia lihat dan dengar percakapannya. Sementara wujud fisiknya sendiri dalam keadaan diam, kaku.

Saya teringat pernah membaca di sebuah majalah pengalaman spiritual GM Sudarta, kartunis Kompas yang terkenal dengan Oom Pasikom-nya, yang pekan ini karya-karyanya sedang dipamerkan di ITB. Di situ, ia menceritakan pengalamannya saat tiba-tiba merasakan diri keluar dari tubuh.

Ketika sedang berjalan di Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, ia ditabrak mobil. Kakinya patah. Ia dirawat di RS Cipto Mangunkusumo. Suatu malam, setelah merasakan haus yang saqngat, tiba-tiba ia melihat dirinya sendiri. Ia ketakutan karena mengira dirinya sudah akan mati. Setelah beberapa saat, untungnya, ia bisa kembali masuk ke dalam raganya.

Apa yang terjadi pada Sudarta kemudian? Pria yang bernama lengkap Geradus Mayela Sudarta, lahir di Kauman, Klaten, Jawa Tengah, 20 Februari 1948, mengaku mendapatkan pencerahan dalam hidupnya. Dan, satu hal yang nyata, Sudarta yang awalnya perokok berat, setelah mengalami OBE memutuskan berhenti merokok!

Menurut guru spiritualis Anand Khrisna, pada saat NDE atapun OBE, kita memang bisa saja mengalami hal-hal yang berdampak pada kesehatan jiwa. “Out of body experience bisa menjadi re- programming diri kita, apakah kita menjadi lebih baik atau tidak.” Anand, yang pernah mengalami hal serupa, mengaku menemukan jati dirinya

Nah, kembali ke kondisi Pak Harto, kita tak tahu apakah ia telah sampai pada kondisi NDE, atau bahkan telah mengalami OBE — seperti yang pernah dialami GM Sudarta. Saya sendiri berharap Pak Harto mengalami OBE, dan seperti kata Anand Khrisna, pada dirinya terjadi re-programming sehingga menjadi Soeharto yang lebih baik dari sebelumnya, atau bahkan menjadi Soeharto yang sama sekali baru dalam bersikap dan bertindak.

Itulah sebabnya saya kerap berdoa agar Pak Harto diberi kesembuhan, dan setelah itu ia menjadi manusia baru. Alangkah bahagianya jika duit Rp 350 triliun, yang menurut PBB dan Bank Dunia digaruknya dari rakyat, dikembalikan kepada rakyat. Bayangkan, duit sebanyak itu bisa dipakai untuk apa saja. Bisa untuk pendidikan gratis, bisa juga untuk kesehatan gratis.***

Bandung, 21 Januari 2008

Jenderal Agum di Tengah Sengkarut Politik Jabar

14 January, 2008

Jenderal Agum di Tengah Sengkarut Politik Jabar

Andi Asmadi, Tribun Jabar

SAYA mengenal Agum Gumelar sebagai Panglima Kodam VII/Wirabuana, yang pada September 1997 harus pontang- panting menangani kasus kerusuhan rasial di Makassar. Kematangan dalam melakukan pendekatan teritorial memungkinkan ia menganalisasi kerusuhan sehingga tidak berkembang lebih luas.

Nama Agum beberapa waktu belakangan ini kembali menyentak saya ketika dia “pulang kampung” ke Jawa Barat dan menyatakan kesiapannya untuk bertarung memperebutkan kursi Jabar 01. Ia bahkan telah di-SK-kan oleh DPP PDIP sebagai bakal calon gubernur, berpasangan dengan Rudi Harsa Tanaya, Ketua PDIP Jabar.

Saya tersentak bukan karena kepedulian Agum, sebagai tokoh nasional, untuk kembali ke daerah mengabdikan diri membangun Jabar. Saya tersentak bukan karena Agum melangkahkan kaki dengan menggunakan kendaraan politik PDIP. Saya tersentak bukan karena Agum belakangan ini menyiratkan keengganan berpasangan dengan Rudi dan karena itu, kabarnya, ia “meminta” dipasangkan dengan figur lain.

Saya tersentak karena ada isu miring berseliweran tentang upaya menghadang Agum memasuki pentas politik Jabar. Isu itu menyebutkan ada konspirasi sejumlah elite politik yang melakukan rekayasa untuk secara sistematis mencoba menutup jalan bagi Agum. Jika benar, ini hal serius yang amat sangat perlu dicermati oleh Agum.

Saya percaya pria kelahiran Tasikmalaya, 17 Desember 1945, yang sudah matang di militer dan juga sudah kenyang di politik ini, memiliki kemampuan untuk meretas jalan agar bisa lebih lempang, sebesar apapun batu penghalang yang ada di depannya.

Saya sama percayanya ketika ia bisa mengatasi kerusuhan rasial 16-17 September 1997 di Makassar. Memang ada yang meninggal, puluhan bangunan dan kendaraan dibakar, tapi skala kerusuhan bisa diperkecil.

Kala itu, Benny Karre –seorang pemuda warga keturunan Tionghoa yang mengidap penyakit jiwa– menebas kepala gadis cilik usia 9 tahun, Anni Mujahidah Rasunah, sampai tewas. Kabar yang menyebar adalah ada warga Cina yang membunuh pribumi, ada warga non-Muslim yang membunuh warga Muslim yang baru pulang mengaji.

Kasus terjadi pada 15 September malam dan Makassar sudah membara sejak 16 September dinihari. Aksi massa berkembang menjadi kerusuhan rasial yang diwarnai pembakaran dan pengrusakan di setiap sudut kota. Bahkan, juga terjadi penjarahan.

Saat itulah saya mengenal sosok Agum dengan segala kebajikan dan kebijakannya. Ia bisa saja menerjunkan pasukan dan menghadang massa, namun itu tak ia lakukan. Kalau saja sikap otoriter sebagai seorang jenderal lebih dominan, bisa dibayangkan bagaimana darah akan tumpah di Makassar.

Yang teringat di benak saya kemudian adalah keterharuan Agum pada seorang remaja belasan tahun, tukang becak yang mangkal di Jl Bulukunyi, Makassar.

Saat itu banyak warga melakukan penjarahan. Agum sempat menanyai sang tukang becak, kenapa tidak ikut menjarah pakaian di toko Prima Mode, seperti yang dilakukan warga kebanyakan. Anak itu menjawab, “Barang itu bukan hak saya, itu tidak halal”.

Keesokan harinya, Agum memerintahkan ajudannya mencari si tukang becak dan membawanya ke rumah dinasnya di Jl Sungai Tangka. Penghargaan ia berikan. Ia bahkan menjadikan si remaja tukang becak sebagai anak angkat dan memboyongnya ke Bandung untuk disekolahkan di sini.

Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, saya sungguh percaya, Agum mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat ketika melangkahkan kaki ke ranah politik Jabar. Ia tak akan termakan oleh provokasi yang bagaimanapun panasnya, serta tak akan terjebak oleh silang sengkarut manuver politik yang pada pekan- pekan ini semakin panjang membelit.

Saya tidak menempatkan diri sebagai pemihak Agum pada Pilkada Jabar 2008 ini. Tapi, dengan kendaraan partai manapun akhirnya Agum bertarung memperebutkan Jabar 01, akan menjadi hal yang tragis jika ia gagal di daerahnya sendiri. Baik gagal untuk menjadi calon gubernur, apatah lagi gagal saat sudah menjadi calon gubernur. Ingat jenderal, jalan kelam di pentas politik nasional dan DKI membayangi.****

Keringat Anda (Juga) Memakmurkan Singapura

14 January, 2008

Keringat Anda (Juga) Memakmurkan Singapura

Andi Asmadi, Tribun Jabar

KEPUTUSAN Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menghukum Temasek Holdings (BUMN investasi Singapura) dan kawan-kawan, dalam kaitan kasus monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di industri telekomunikasi Indonesia, mengingatkan saya pada “pikiran liar” seorang teman.

Ia menulis tentang keterkaitan tukang ojek di Jakarta, dan kota-kota besar di tanah air, dengan kemakmuran Singapura. Katanya, tukang ojek –yang kini laris manis di tengah kemacetan Jakarta– bersama keringatnya di terik matahari ikut menyumbang sen demi sen yang membuat negeri merlion itu semakin makmur.Apa hubungannya?

Temasek Holdings, yang dikendalikan Ho Ching, istri Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, adalah induk dari Asia Financial Holdings, perusahaan yang mengakuisisi banyak lembaga keuangan di Asia. Nah, Asia Financial ini menguasai 59 persen saham Bank Danamon.

Danamon menguasai 75 persen saham perusahaan pembiayaan terkemuka, PT Adira Dinamika Multifinance Tbk. Salah satu produk Adira ini adalah pembiayaan kredit sepeda motor untuk tukang ojek. Adira meraup untung yang cukup besar dari kredit motor tukang ojek ini.

Jadi, silakan runut sendiri, kira-kira duit dari keringat tukang ojek itu kemudian mengalir ke mana, dengan mengingat rangkaian Adira-Danamon-Asia Financial-Temasek- Singapura.

Terlalu liar? Mungkin ya. Tapi, jangan lupa, Temasek adalah perusahaan investasi yang sangat agresif yang sangat berorientasi pada bisnis, tak peduli di negara mana ia berinvestasi. Temasek menjadi simbol kapitalisme Singapura, yang dengan tentakelnya, sebenarnya, sudah menjajah Asia Tenggara, mungkin sebentar lagi Asia, melalui misinya: menjadi financial hub Asia.

Temasek juga sangat kental dengan kepentingan politik pemerintah Singapura. Ho Ching adalah istri PM Lee Hsien Loong. Direksi lainnya adalah tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan politik. Di perusahaan itu, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden Singapura.

Di Indonesia, Temasek tak hanya mencengkeram melalui Bank Danamon. Sebanyak 50,11 persen saham Astra, perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom), juga sudah digenggamnya melalui Jardine Cycle & Carriage. Padahal, lini bisnis Astra menggurita di banyak sektor melalui Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, dan Astra Credit Company.

Dengan kepemilikan saham di Bank Permata (melalui Astra), Bank Danamon, Bank BII (plus WOM Finance), Temasek mungkin saja berencana menguasai perbankan Indonesia. Lalu, dengan penguasaan saham di Telkomsel dan Indosat, Temasek juga ingin mengendalikan telekomunikasi Indonesia. Jika menguasai perbankan dan telekomunikasi, sebenarnya Temasek (baca: Singapura) sudah menjajah kita, bukan?

Tapi, tahukah Anda, kalau Temasek itu dulunya sebuah kerajaan kecil yang dalam buku sejarah SMP dikenal sebagai Tumasik? Kerajaan ini juga masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit berkat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada.

Sekarang, janganlah membandingkan “kekuasaan” Temasek dengan Indonesia. Tak semata duit para koruptor –yang bisa disimpan aman di sana, dan kini semakin nyaman setelah perjanjian ekstradisi dibatalkan– yang membuat mereka semakin makmur. Bulir-bulir keringat Anda pun, mungkin, semakin memakmurkan mereka.***