Archive for April, 2008

Kawin dengan Monyet di Negeri Tipu-tipu

29 April, 2008

Kawin dengan Monyet di Negeri Tipu-tipu

Andi Asmadi
Tribun Pontianak

NEGERI ini sepertinya penuh aksi tipu-tipu. Banyak hal yang terjadi hanya bisa dimengerti jika menggunakan nalar bengkok. Seperti kaki di kepala, kepala di kaki. Celakanya, bangsa ini sepertinya menerima aksi tipu-tipu itu sebagai bagian dari sebuah kehidupan yang normal. Permisif sekali.

Kita tidak usah jauh-jauh mengambil contoh: iklan telepon selular yang belakangan ini begitu gencar merecoki kepala kita. Operator berperang satu sama lain dengan berlomba membodohi konsumen melalui penerapan tarif, yang katanya, paling murah.

Awalnya, tarif per detik Rp 25. Tiba-tiba, ada operator yang dengan gagah berani mengatakan, bayar cukup Rp 10 per detik. Setelah itu muncul tarif Rp 1 per detik, Rp 0,5 per detik, Rp 0,1 per detik, dan Rp 0,001 per detik. Kegilaan yang terbaru adalah Rp 0,000…1 per detik alias gratis menelepon sampai puas.

Benarkah tarif percakapan telepon selular sudah menjadi semurah itu? Jangan gila, dong. Tarif itu hanya berlaku untuk percakapan ke sesama operator dan pada kurun waktu tertentu. Ke operator lain tetap mahal. Tarif itu juga hanya berlaku setelah percakapan menit kesekian.

Jadi, itu hanya tipu-tipu? Iyalah. Jadi, tak ada operator yang menerapkan tarif yang benar-benar gratis? Jangan mimpi. Jadi, tak ada orang yang berani kawin sama monyet, seperti iklan salah satu operator? Mana ada.

Mari kita lihat contoh aksi tipu-tipu lainnya di negeri ini. Pada 29 Februari 2008, Kejaksaan Agung menghentikan penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk BCA dan BDNI dengan alasan tak cukup bukti. Eh, tak sampai 72 jam setelahnya, Urip Tri Gunawan, ketua tim jaksa penyelidik, menyambangi kediaman mantan bos BDNI Sjamsul Nursalim dan membawa pulang duit Rp 6 miliar.

Kasus BLBI itu sendiri sesungguhnya penuh aksi tipu-tipu. Pada 1998, pemerintah mengucurkan dana Rp 52,7 triliun ke BCA. Liem Sioe Liong, waktu itu pemilik BCA, membayar ke pemerintah (BPPN) dengan menyerahkan aset 108 perusahaan. Berapa nilai aset itu? Hanya Rp 19 triliun!

Pemerintah juga mengucurkan dana Rp 47,25 triliun ke BDNI. Sjamsul Nursalim, pemilik BDNI, membayar dengan menyerahkan aset tiga perusahaan ke BPPN. Berapa nilai aset itu? Hanya Rp 3,4 triliun!

Nah, masuk akal apa nggak. Total dana BLBI yang dikucurkan pemerintah mencapai Rp 144,54 triliun, namun nilai komersial dari jaminan aset bank-bank penerima dana BLBI –yang kemudian dikelola oleh BPPN– hanya Rp 12,35 triliun.

Siapa yang menanggung tekor yang cukup besar itu? Tentu bukan para konglomerat. Kita, rakyat negeri ini, yang membayarnya dengan beban hidup yang lebih berat, dengan harga bahan kebutuhan pokok terus merangkak naik.

Para obligor BLBI yang tak tersentuh hukum itu kini hidup enak. Malah, beberapa di antaranya masuk daftar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Globe Asia dan Forbes. Liem Sioe Liong alias Sudono Salim (BCA) tercatat memiliki kekayaan Rp 25,2 triliun, Sukanto Tanoto (Unibank) Rp 11,7 triliun, dan Sjamsul Nursalim (BDNI) Rp 4 triliun.

Jadi betul, ini negeri penuh aksi tipu-tipu. Jika demikian halnya, siapa gerangan yang berani kawin sama monyet? Untunglah, di tengah hidup yang semakin susah ini, kita masih bisa tertawa melihat Tukul Arwana menertawai diri sendiri lewat tayangan Empat Mata di satu stasiun TV.***

 

 

 

Vonis Nyeleneh dan Sarapan Pagi Hakim

3 April, 2008

Vonis Nyeleneh dan Sarapan Pagi Hakim

Andi Asmadi
Tribun Jabar

PARA hakim di berbagai level, mulai dari pengadilan negeri sampai Mahkamah Agung, patut bergembira. Pundi-pundi uang mereka akan bertambah pada Maret 2008 ini, sesuai Perpres No 19 Tahun 2008 tentang kinerja hakim dan pegawai negeri di lingkungan MA dan badan peradilan yang berada di bawahnya.

Para pemegang palu keadilan itu mulai mendapatkan remunerasi (tunjangan khusus kinerja) di luar gaji dan tunjangan tetap yang mereka peroleh selama ini. MA dan jajaran hakim adalah institusi kedua yang mendapatkan remunerasi. Sebelumnya, bonus tambahan tiap bulan itu sudah diberlakukan di jajaran Departemen Keuangan.

Dalam Perpres No 19/2008 itu terlampir 15 degre (tingkat) besaran tunjangan khusus. Tertinggi, ketua MA, yang mendapatkan tunjangan Rp 31,1 juta per bulan. Hakim paling bawah (hakim baru di pengadilan negeri dan agama kelas II) mendapat tambahan penghasilan Rp 4,2 juta.

Ketua MA Bagir Manan, misalnya, kini bisa membawa pulang Rp 55,49 juta sebulan. Rinciannya, gaji sebagai ketua MA (per 28 Januari 2005) adalah Rp 24,39 juta. Jumlah ini berasal dari gaji pokok Rp 5,04 juta, tunjangan jabatan Rp 18,9 juta, dan uang paket Rp 450 ribu. Jika ditambahkan dengan tunjangan khusus yang mulai berlaku Maret ini, jumlahnya menjadi Rp 55,49 juta.

Hakim yang baru memulai karier pun kini mendapat penghasilan yang lumayan besar, hampir Rp 6 juta sebulan. Rinciannya, gaji sesuai PP No 10 Tahun 2007 Rp 1,796 juta, ditambah tunjangan khusus Rp 4,2 juta. Para hakim di pengadilan negeri juga mendapat tambahan penghasilan yang lumayan besar, bisa membawa pulang sampai Rp 10 juta sebulan.

Perpres mengenai tunjangan remunerasi ini ternyata berlaku surut, mulai September 2007. Dengan demikian, pada pembayaran gaji Maret 2008, mereka bakal mendapat pembayaran tunjangan tujuh bulan sekaligus. Bayangkan, ketua MA tiba-tiba mendapat tambahan penghasilan Rp 217 juta. Hakim biasa di pengadilan negeri langsung dapat Rp 29,4 juta.

Kita sungguh berharap, dengan pemberian tunjangan khusus berbasis kinerja, para hakim di semua level benar-benar menjalankan fungsinya seperti yang diamanahkan dalam sumpah jabatan, dan tidak ada lagi yang tergoda oleh suap ataupun korupsi.

Tambahan penghasilan itu menjadikan para hakim, sesuai standar hidup di Indonesia, dapat hidup secara berkecukupan sehingga tak bisa dipengaruhi oleh para makelar kasus (markus) yang kerap menggerogoti lembaga peradilan. Mereka,dengan tambahan penghasilan itu, tak akan pernah kesulitan lagi kalau hanya untuk sekadar makan.

Kalau makan sudah cukup, hidup serba ada, apalagi sih yang dicari? Tak perlu tambah istri lagi, kan? Jadi, tak perlu lagi korupsi atau menerima suap dari pihak yang berperkara. Ketukan palu pun terdengarnya tenang dan halus, tak perlu sampai gagang patah lantaran emosional tak mendapatkan apa- apa dari perkara yang ditangani.

Duit yang tiba-tiba menyesaki pundi-pundi hakim semoga bisa digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, seperti kuliah lagi untuk menambah wawasan dan pengetahuan hukum. Hakim yang berpendidikan S2 atau S3 kan keren? Asal jangan pendidikannya tinggi, akal bulusnya juga tinggi dalam praktik jual beli putusan.

Semoga tak ada lagi vonis yang nyeleneh, hanya karena sarapan pagi sang hakim yang tidak enak. Toh duitnya sudah cukup untuk sarapan lengkap, yang seperti kata penyanyi Gita Gutawa, “Sempurna….”***

SOROT TRIBUN JABAR, 3 APRIL 2008