Danny dan Nu’man Jangan Lupakan Rakyat

By asmaradira

Berkaca pada Pilkada Sulsel:
Danny dan Nu’man Jangan Lupakan Rakyat

AndiĀ Asmadi, Tribun Jabar

KETIKA dua incumbent (pejabat yang masih sedang dalam masa jabatan) bertarung memperebutkan kursi pemimpin tertinggi dalam organisasi pemerintahan, apa yang akan terjadi? Pada umumnya, organisasi tak akan berjalan sebagaimana mestinya, dan fungsi pelayanan kepada rakyat pun terbengkalai lantaran sang pejabat sibuk melakukan sosialisasi dengan dalih kunjungan kerja.

Meski tak terlihat secara nyata, aroma panas persaingan dua incumbent di Pemprov Jabar sudah terasa sejak beberapa pekan terakhir. Diakui atau tidak, ada hubungan senjang yang terbentuk antara Gubernur Danny Setiawan (63) dan Wakil Gubernur Nu’man Abdul Hakim (55). Pada Pilkada Jabar 2008 ini, keduanya kembali membidik posisi yang sama.

Sebagai perbandingan, mungkin ada baiknya kita melirik ke kasus Pilkada Sulsel. Hari-H pencoblosan 5 November 2007. Tapi, setahun lebih sebelum hari-H, dua incumbent, Gubernur Amin Syam dan Wakil Gubernur Syahrul Yasin Limpo, sudah terlibat dalam “perang dingin” hingga mengganggu kinerja pemerintahan secara keseluruhan.

Perang dingin itu, antara lain, terlihat pada sistem pendelegasian wewenang yang tak berjalan dengan baik. Ketika gubernur berhalangan membuka suatu acara penting, seharusnya didelegasikan ke wakil gubernur. Ternyata, yang diberi disposisi justru sekwilda atau asisten setwilda, sementara wakil gubernur tak punya kegiatan apa-apa.

Kejadian lain, gubernur dan wakil gubernur berlomba menghadiri kegiatan atau undangan dari masyarakat sehingga melupakan fungsi pelayanan. Mereka jarang masuk kantor. Setahun jelang hari pencoblosan, sang gubernur malah berkantor di rumah jabatan, ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di kantor gubernur.

Yang lebih memprihatinkan, sang pejabat menebar bantuan di sana-sini dalam kapasitas sebagai pejabat publik tetapi diduga untuk kepentingan pilkada. Ambil misal, gubernur menyatakan menyumbang puluhan juta rupiah untuk panitia masjid yang sedang direnovasi. Tetapi, ketika panitia datang ke kantor gubernur, setelah dicek, ternyata dana bantuan sosial, pemuda, dan keagamaan sudah habis sejak enam bulan lalu.

Perseteruan itu memuncak pada masa-masa kampanye, yang mengemuka melalui jargon-jargon yang mereka lontarkan ke rakyat. Kubu Syahrul (53), misalnya, menyatakan, “Jangan pilih pemimpin yang tua, loyo, dan sakit-sakitan.” Tentu saja, yang dimaksud adalah Amin Syam yang telah menginjak usia 63 tahun.

Kubu Amin kemudian membalas, “Jangan pilih pemimpin yang masuk masjid hanya saat pilkada, jangan pemilih pemimpin yang berteman dengan narkoba.” Sasarannya jelas, Syahrul, yang pernah dituding terlibat kasus narkoba namun tak terbukti.

Kembali ke Jabar, kita berharap dua pejabat incumbent, sampai detik terakhir, tetap menjalankan fungsi sebagai pejabat yang bekerja untuk melayani kepentingan publik, bukan untuk diri atau kelompok. Meski, konon kabarnya, Danny dan Nu’man sudah tak akur sejak setahun pertama menjabat, janganlah hal itu terbawa oleh panasnya hati dan panasnya suhu politik di masa-masa pilkada ini.

Jadikanlah Pilkada Jabar 2008 ini sebagai pesta demokrasi bagi rakyat dalam memilih pemimpin, bukan ajang pertempuran yang melulu mengedepankan emosi sehingga melupakan kepentingan rakyat. Kita menunggu para calon, terutama kedua incumbent, beradu konsep, bukannya saling menyerang pribadi masing- masing.

Yang tak kalah pentingnya, para calon harus berkomitmen “siap menang, siap kalah” secara total. Maksudnya, kesiapan itu jangan hanya terlontar pada saat kampanye, namun kemudian berubah menjadi “siap menang, siap kalah, asal…” ketika hasil pilkada sudah diketahui. Janganlah jadikan Jabar seperti Sulsel, yang ketika para pemimpinnya bertikai, rakyat ikut gontok- gontokan.***

Bandung, 7 Februari 2008

Leave a Reply