Archive for February, 2008

Jangan Simpan Ponsel di Saku Celana

21 February, 2008

Jangan Simpan Ponsel di Saku Celana

Andi Asmadi
Tribun Jabar

BERITA meledaknya telepon selular Nokia 2115i milik siswa SD Karang Pawulang, Bandung, seketika mengubah gaya hidup saya, terutama pada hal-hal yang terkait ponsel. Saya tiba-tiba disergap ketakutan. Bagaimana kalau dua ponsel yang selalu melekat di tubuh saya meledak?

Kejadian pada Rabu (20/2) pagi itu, untuk sebagian orang hanyalah peristiwa kecil karena sama sekali tidak ada korban jiwa. Ledakan ponsel, yang terdengar sampai radius 20 meter, hanya melukai Naufal Rizki Riandri dan temannya, Aldi, siswa kelas IV. Serpihan casing ponsel mengenai paha kanan Naufal hingga berdarah, sementara tangan Aldi terlihat gosong, tapi tidak terluka parah.

Bagi saya, itu adalah peristiwa luar biasa. Bagaimana tidak, ponsel telah menjadi barang kebutuhan pokok yang selalu menemani aktivitas keseharian kita. Pemakai ponsel di seluruh dunia pada 2010 diperkirakan mencapai 1,5 miliar. Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai 80 juta orang pada 2008 ini.

Ketika teman hidup yang bernama ponsel itu mendadak menjadi ancaman, berapa banyak orang yang akan dihinggapi perasaan waswas? Memang, kasus ponsel meledak hanya terjadi pada beberapa merek dengan tipe tertentu. Tapi, kita tidak berbicara merek di sini, melainkan ancaman yang amat menakutkan yang muncul dari benda kecil berukuran segenggaman tangan.

Kasus ponsel meledak, seperti yang terjadi di Bandung, bukan yang pertama. Kasus yang sama pernah terjadi pada Juli 2007 di Pontianak, Kalimantan Barat. Mahatir Yusuf Habibie (20 bulan) mengalami luka bakar akibat ponsel merk Vigo Tipe 290 (buatan Korea) meledak saat ia mainkan. Ini peristiwa pertama yang terjadi di Indonesia, yang dilaporkan.

Ancaman yang lebih menakutkan datang dari Korea Selatan. Pada November 2007, seorang pria berusia 33 tahun yang bekerja di Provinsi Chungcheong Utara, 135 km selatan Seoul, dilaporkan tewas setelah ponsel yang ia simpan di saku bajunya meledak dan melukai lambung dan hatinya.

Kejadian ponsel meledak dan menewaskan penggunanya pertama kali dilaporkan terjadi di Cina. Seorang pria yang bekerja di sebuah tempat yang bertemperatur tinggi tewas setelah ponsel yang ia simpan di saku baju meledak. Dugaan kuat mengarah kepada baterai ponsel yang tidak stabil pada suhu tinggi.

Beberapa waktu lalu, Nokia mengumumkan penggantian cuma- cuma untuk baterai BL-5C dengan nomor seri tertentu yang jumlahnya di seluruh dunia mencapai 300 juta unit. Pasalnya, telah dilaporkan kurang lebih 100 kasus arus pendek saat pengisian daya (charging) pada baterai produksi Matsushita Corp ini.

Meski kasus yang diakui Nokia hanya terjadi saat charging, tapi tidak tertutup kemungkinan ada kasus (baterai) ponsel meledak saat pemakaian, atau beberapa saat setelah pemakaian. Karenanya, kasus di Bandung selayaknya mendapat perhatian besar dari pihak yang terkait. Nokia selaku produsen handset yang sekaligus menyediakan baterainya, seharusnya melakukan investigasi penuh pada kasus itu dan mengumumkan apa yang sebenarnya terjadi.

Bagaimanapun, kebiasaan menyimpan ponsel di saku baju atau celana ibaratnya kita sedang memelihara “bom waktu”. Siapa bisa menduga kalau suatu ketika kita memakai ponsel berlama- lama, hal serupa terjadi pada diri kita? Ingat, tarif percakapan panjang sekarang sudah amat murah, ada operator yang mematok tarif hanya Rp 0,01 per detik.

Itu sebabnya, saya menjadi amat sensitif setelah kejadian di SD Karang Pawulang itu. Saya mulai berpikir mengganti ponsel saya dengan ponsel yang memiliki fasilitas bluetooth untuk menjawab kekhawatiran “bagaimana kalau ponsel meledak di telinga”. Menyimpannya pun tidak lagi di saku celana bagian depan, kiri dan kanan (ha, bagaimana kalau kedua ponsel meledak bersamaan di tempat sensitif itu).*

BANDUNG, 21 FEBRUARI 2008

Danny dan Nu’man Jangan Lupakan Rakyat

7 February, 2008

Berkaca pada Pilkada Sulsel:
Danny dan Nu’man Jangan Lupakan Rakyat

AndiĀ Asmadi, Tribun Jabar

KETIKA dua incumbent (pejabat yang masih sedang dalam masa jabatan) bertarung memperebutkan kursi pemimpin tertinggi dalam organisasi pemerintahan, apa yang akan terjadi? Pada umumnya, organisasi tak akan berjalan sebagaimana mestinya, dan fungsi pelayanan kepada rakyat pun terbengkalai lantaran sang pejabat sibuk melakukan sosialisasi dengan dalih kunjungan kerja.

Meski tak terlihat secara nyata, aroma panas persaingan dua incumbent di Pemprov Jabar sudah terasa sejak beberapa pekan terakhir. Diakui atau tidak, ada hubungan senjang yang terbentuk antara Gubernur Danny Setiawan (63) dan Wakil Gubernur Nu’man Abdul Hakim (55). Pada Pilkada Jabar 2008 ini, keduanya kembali membidik posisi yang sama.

Sebagai perbandingan, mungkin ada baiknya kita melirik ke kasus Pilkada Sulsel. Hari-H pencoblosan 5 November 2007. Tapi, setahun lebih sebelum hari-H, dua incumbent, Gubernur Amin Syam dan Wakil Gubernur Syahrul Yasin Limpo, sudah terlibat dalam “perang dingin” hingga mengganggu kinerja pemerintahan secara keseluruhan.

Perang dingin itu, antara lain, terlihat pada sistem pendelegasian wewenang yang tak berjalan dengan baik. Ketika gubernur berhalangan membuka suatu acara penting, seharusnya didelegasikan ke wakil gubernur. Ternyata, yang diberi disposisi justru sekwilda atau asisten setwilda, sementara wakil gubernur tak punya kegiatan apa-apa.

Kejadian lain, gubernur dan wakil gubernur berlomba menghadiri kegiatan atau undangan dari masyarakat sehingga melupakan fungsi pelayanan. Mereka jarang masuk kantor. Setahun jelang hari pencoblosan, sang gubernur malah berkantor di rumah jabatan, ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di kantor gubernur.

Yang lebih memprihatinkan, sang pejabat menebar bantuan di sana-sini dalam kapasitas sebagai pejabat publik tetapi diduga untuk kepentingan pilkada. Ambil misal, gubernur menyatakan menyumbang puluhan juta rupiah untuk panitia masjid yang sedang direnovasi. Tetapi, ketika panitia datang ke kantor gubernur, setelah dicek, ternyata dana bantuan sosial, pemuda, dan keagamaan sudah habis sejak enam bulan lalu.

Perseteruan itu memuncak pada masa-masa kampanye, yang mengemuka melalui jargon-jargon yang mereka lontarkan ke rakyat. Kubu Syahrul (53), misalnya, menyatakan, “Jangan pilih pemimpin yang tua, loyo, dan sakit-sakitan.” Tentu saja, yang dimaksud adalah Amin Syam yang telah menginjak usia 63 tahun.

Kubu Amin kemudian membalas, “Jangan pilih pemimpin yang masuk masjid hanya saat pilkada, jangan pemilih pemimpin yang berteman dengan narkoba.” Sasarannya jelas, Syahrul, yang pernah dituding terlibat kasus narkoba namun tak terbukti.

Kembali ke Jabar, kita berharap dua pejabat incumbent, sampai detik terakhir, tetap menjalankan fungsi sebagai pejabat yang bekerja untuk melayani kepentingan publik, bukan untuk diri atau kelompok. Meski, konon kabarnya, Danny dan Nu’man sudah tak akur sejak setahun pertama menjabat, janganlah hal itu terbawa oleh panasnya hati dan panasnya suhu politik di masa-masa pilkada ini.

Jadikanlah Pilkada Jabar 2008 ini sebagai pesta demokrasi bagi rakyat dalam memilih pemimpin, bukan ajang pertempuran yang melulu mengedepankan emosi sehingga melupakan kepentingan rakyat. Kita menunggu para calon, terutama kedua incumbent, beradu konsep, bukannya saling menyerang pribadi masing- masing.

Yang tak kalah pentingnya, para calon harus berkomitmen “siap menang, siap kalah” secara total. Maksudnya, kesiapan itu jangan hanya terlontar pada saat kampanye, namun kemudian berubah menjadi “siap menang, siap kalah, asal…” ketika hasil pilkada sudah diketahui. Janganlah jadikan Jabar seperti Sulsel, yang ketika para pemimpinnya bertikai, rakyat ikut gontok- gontokan.***

Bandung, 7 Februari 2008