Jangan Simpan Ponsel di Saku Celana
Andi Asmadi
Tribun Jabar
BERITA meledaknya telepon selular Nokia 2115i milik siswa SD Karang Pawulang, Bandung, seketika mengubah gaya hidup saya, terutama pada hal-hal yang terkait ponsel. Saya tiba-tiba disergap ketakutan. Bagaimana kalau dua ponsel yang selalu melekat di tubuh saya meledak?
Kejadian pada Rabu (20/2) pagi itu, untuk sebagian orang hanyalah peristiwa kecil karena sama sekali tidak ada korban jiwa. Ledakan ponsel, yang terdengar sampai radius 20 meter, hanya melukai Naufal Rizki Riandri dan temannya, Aldi, siswa kelas IV. Serpihan casing ponsel mengenai paha kanan Naufal hingga berdarah, sementara tangan Aldi terlihat gosong, tapi tidak terluka parah.
Bagi saya, itu adalah peristiwa luar biasa. Bagaimana tidak, ponsel telah menjadi barang kebutuhan pokok yang selalu menemani aktivitas keseharian kita. Pemakai ponsel di seluruh dunia pada 2010 diperkirakan mencapai 1,5 miliar. Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai 80 juta orang pada 2008 ini.
Ketika teman hidup yang bernama ponsel itu mendadak menjadi ancaman, berapa banyak orang yang akan dihinggapi perasaan waswas? Memang, kasus ponsel meledak hanya terjadi pada beberapa merek dengan tipe tertentu. Tapi, kita tidak berbicara merek di sini, melainkan ancaman yang amat menakutkan yang muncul dari benda kecil berukuran segenggaman tangan.
Kasus ponsel meledak, seperti yang terjadi di Bandung, bukan yang pertama. Kasus yang sama pernah terjadi pada Juli 2007 di Pontianak, Kalimantan Barat. Mahatir Yusuf Habibie (20 bulan) mengalami luka bakar akibat ponsel merk Vigo Tipe 290 (buatan Korea) meledak saat ia mainkan. Ini peristiwa pertama yang terjadi di Indonesia, yang dilaporkan.
Ancaman yang lebih menakutkan datang dari Korea Selatan. Pada November 2007, seorang pria berusia 33 tahun yang bekerja di Provinsi Chungcheong Utara, 135 km selatan Seoul, dilaporkan tewas setelah ponsel yang ia simpan di saku bajunya meledak dan melukai lambung dan hatinya.
Kejadian ponsel meledak dan menewaskan penggunanya pertama kali dilaporkan terjadi di Cina. Seorang pria yang bekerja di sebuah tempat yang bertemperatur tinggi tewas setelah ponsel yang ia simpan di saku baju meledak. Dugaan kuat mengarah kepada baterai ponsel yang tidak stabil pada suhu tinggi.
Beberapa waktu lalu, Nokia mengumumkan penggantian cuma- cuma untuk baterai BL-5C dengan nomor seri tertentu yang jumlahnya di seluruh dunia mencapai 300 juta unit. Pasalnya, telah dilaporkan kurang lebih 100 kasus arus pendek saat pengisian daya (charging) pada baterai produksi Matsushita Corp ini.
Meski kasus yang diakui Nokia hanya terjadi saat charging, tapi tidak tertutup kemungkinan ada kasus (baterai) ponsel meledak saat pemakaian, atau beberapa saat setelah pemakaian. Karenanya, kasus di Bandung selayaknya mendapat perhatian besar dari pihak yang terkait. Nokia selaku produsen handset yang sekaligus menyediakan baterainya, seharusnya melakukan investigasi penuh pada kasus itu dan mengumumkan apa yang sebenarnya terjadi.
Bagaimanapun, kebiasaan menyimpan ponsel di saku baju atau celana ibaratnya kita sedang memelihara “bom waktu”. Siapa bisa menduga kalau suatu ketika kita memakai ponsel berlama- lama, hal serupa terjadi pada diri kita? Ingat, tarif percakapan panjang sekarang sudah amat murah, ada operator yang mematok tarif hanya Rp 0,01 per detik.
Itu sebabnya, saya menjadi amat sensitif setelah kejadian di SD Karang Pawulang itu. Saya mulai berpikir mengganti ponsel saya dengan ponsel yang memiliki fasilitas bluetooth untuk menjawab kekhawatiran “bagaimana kalau ponsel meledak di telinga”. Menyimpannya pun tidak lagi di saku celana bagian depan, kiri dan kanan (ha, bagaimana kalau kedua ponsel meledak bersamaan di tempat sensitif itu).*
BANDUNG, 21 FEBRUARI 2008