Tatkala Etik Juwita Teriak Stop Bullying
Andi Asmadi
Tribun Jabar
ETIK Juwita tidak seterkenal para cerpenis yang sering mengisi rubrik seni dan budaya di media nasional tanah air. Ia hanya seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Blitar, Jawa Timur, yang bekerja di Hongkong. Ia hanya buruh migran yang mencoba memperbaiki hidup dengan bekerja di negeri orang, lalu mencoba menuang pengalaman pribadinya dalam rangkaian cerita yang sebagian adalah fiksi.
Ketika karya fiksinya dimuat di salah satu media nasional yang terbit di Surabaya beberapa waktu lalu, banyak mata yang terbelalak. Ia berhasil menembus seleksi ketat yang diberlakukan media tersebut. Kemampuannya memotret kehidupan para TKW –yang juga dilakoninya– amat layak untuk memperoleh penghargaan.
Etik berhasil mengangkat praktik bullying yang dialami para TKW –nyaris seragam di mana pun mereka berada. Kekerasan dan pelecehan adalah dua bentuk bullying yang amat sering mendera para TKW yang pada umumnya dilakukan oleh sang majikan. Tekanan yang terjadi secara terus menerus pada akhirnya menumbuhkan dendam pada diri TKW untuk kemudian melakukan perbuatan yang sama terhadap sang majikan.
Istilah bullying sejatinya sudah lama tercipta, hanya saja kembali mengemuka beberapa waktu terakhir. Jika majikan melakukan bullying pada TKW telah menjadi hal yang biasa, maka yang tak biasa adalah ketika kita tidak menyadari bahwa kita pun sebenarnya kerap melakukan hal yang sama pada orang lain. Mungkin pada teman, rekan kerja, atau pada keluarga kita sendiri: pada istri, suami, bahkan pada anak-anak kita.
Bullying bisa diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Kejadian seperti itu sangat mungkin terjadi berulang.
Sejumlah ahli kejiwaan membagi praktik bullying dalam tiga kategori. Pertama, fisik, seperti memukul, menampar, dan memalak atau meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya. Kedua, verbal, seperti memaki, menggosip, dan mengejek. Ketiga, psikologis, seperti mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, dan mendiskriminasi.
Dalam cerpen yang berjudul Bukan Yem –yang akhirnya terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh PT Gramedia– Etik Juwita bercerita tentang Sutiyem, seorang pekerja di negeri lain. Etik menggambarkan bagaimana praktik bullying yang dialami Sutiyem menumbuhkan dendam dan ia pun pada akhirnya melakukan perbuatan yang sama.
Sutiyem, yang dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kampung halamannya menggunakan mobil carteran, bercerita tentang perbuatan sadis yang dilakukan seorang temannya sesama TKW: memasukkan anak majikan ke dalam mesin cuci. Ia sendiri melakukan perbuatan yang tak kalah kejamnya: mencampurkan racun tikus ke dalam campuran susu anak majikan.
Kekerasan dalam bentuk fisik, verbal, maupun psikologis memang sangat mungkin menumbuhkan tindak kekerasan yang sama dari korban –bahkan lebih kejam, seperti yang dipotret Etik Juwita melalui cerpennya. Seringkali ketidakberdayaan, melalui sikap tanpa perlawanan, hanyalah kamuflase dari gejolak perlawanan yang lebih besar.
Anak-anak Geng Motor, misalnya, mengekpresikan ketidakberdayaannya saat digojlok oleh para senior dengan melakukan perbuatan yang sama –bahkan lebih kejam– terhadap orang lain saat berada di jalanan. Praktik bullying pada anak sekolah, misal yang lain, akan berdampak pada perilaku sehari-hari. Dan, waspadalah, pukulan atau makian yang berlebihan pada anak Anda sangat berpotensi menumbuhkan gejolak kejiwaan. Bukan hanya melalui tingkah aneh dan urakan, malah ia bisa bunuh diri. Jadi, stop bullying!***
Bandung, 11 Desember 2007