Jika Ingin Awet Muda, Teruslah Merokok

By asmaradira

Jika Ingin Awet Muda, Teruslah Merokok

Asmadi, Tribun Jabar

SAYA tak pernah mengerti mengapa seseorang begitu mencintai rokok. Hanya bakar-bakar duit, merusak kesehatan lagi. Alasan bahwa merokok bisa membuat pikiran jadi fresh, memunculkan ide-ide, memperbaiki mood, serta menghabiskan waktu, tak pernah dibenarkan oleh logika saya. “Itu karena kamu tak pernah merokok. Coba deh, pasti kamu akan suka,” rayu seorang teman yang dalam sehari menghabiskan dua bungkus rokok setara 24 batang.

Maka, ketika mengemuka wacana untuk ‘mengharamkan’ rokok, saya termasuk yang menyambut gembira –meski tak mengerti benar dalil-dalil agama yang dipakai. Saya membayangkan duduk di tempat umum tanpa perlu lagi memasang muka masam kepada orang di sebelah yang terus menerus mengepulkan asap rokoknya, dan dengan terpaksa ikut terhisap oleh tarikan napas saya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang belum mengeluarkan fatwa tentang rokok sebagai barang haram.

Pertimbangannya, kata Ketua MUI Ma’ruf Amin, mudarat lain yang muncul jika fatwa itu dikeluarkan menjadi pemikiran tersendiri. Bagaimana nasib belasan ribu karyawan pabrik rokok di tanah air, bagaimana nasib ribuan petani tembakau.

Sejumlah negara, antara lain Arab Saudi dan Malaysia, sudah mengeluarkan fatwa haram untuk rokok.

Pertimbangannya jelas: merokok merusak kesehatan, lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Namun, seperti kata Ma’ruf Amin, Arab Saudi dan Malaysia tak memiliki kompleksitas permasalahan saat memutuskan fatwa itu. Mereka tak punya pabrik rokok, mereka tak punya petani tembakau.

Terlepas dari ‘mudarat’ yang menjadi risiko jika rokok diharamkan, sesungguhnya lintingan tembakau yang diperkaya dengan beberapa bahan lain itu adalah senjata pembunuh yang diproduksi secara massal di negara ini. Dalam asap rokok terkandung sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya, salah satunya nikotin, yang ketika dihirup satu hingga dua detik kemudian langsung sampai ke susunan saraf otak.

Sebagaimana dipaparkan oleh Irawan Rustandi, Medical Director PT Pfizer Indonesia, dalam sebuah seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu, dari 4.000 bahan kimia itu, lebih dari 250 merupakan toksik atau karsinogenik, antara lain aseton, butan, arsenik (ditemukan pada racun serangga), kadmium (ditemukan pada aki mobil), karnon monoksida (ditemukan pada asap knalpot mobil), dan toluen (pelarut industri). “Merokok juga bisa menyebabkan penyakit kanker paru, jantung iskemik, serta penyakit paru obstruktif atau menahun,” begitu ungkap Irawan. Tentu, tanpa maksud menakut-nakuti para perokok.

Berdasarkan survei, 2 dari 3 pria di Indonesia merokok. Survei lain menunjukkan, rata-rata perokok Indonesia merokok 11 batang atau lebih setiap hari. Dan, 48% merokok 11-20 batang setiap hari. Saat ini angka kematian akibat rokok di dunia mencapai 5 juta jiwa per tahun.Dan, jika kesadaran masyarakat belum saja tumbuh, menurut badan kesehatan dunia WHO, hingga 2020 kematian bisa mencapai 10 juta jiwa per tahun.

Ketika membuat tulisan ini, saya berharap teman-teman di kantor, yang tetap merokok meski sudah ada tulisan besar-besar DILARANG MEROKOK DI RUANGAN INI, ikut membacanya. Jika sampai tidak tersinggung, saya ingin mengungkapkan seloroh lama: merokok bisa menyebabkan awet muda, dan membuat harta benda tetap aman.

Bagaimana bisa? Ya, awet muda, tidak pernah merasakan tua, karena keburu mati di usia muda . Ya, harta benda aman, karena pencuri atau perampok takut menyatroni rumah, lantaran sang perokok batuk-batuk terus sampai pagi.***

Bandung, 16 November 2007

Leave a Reply