Keringat Anda (Juga) Memakmurkan Singapura
Andi Asmadi, Tribun Jabar
KEPUTUSAN Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menghukum Temasek Holdings (BUMN investasi Singapura) dan kawan-kawan, dalam kaitan kasus monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di industri telekomunikasi Indonesia, mengingatkan saya pada “pikiran liar” seorang teman.
Ia menulis tentang keterkaitan tukang ojek di Jakarta, dan kota-kota besar di tanah air, dengan kemakmuran Singapura. Katanya, tukang ojek –yang kini laris manis di tengah kemacetan Jakarta– bersama keringatnya di terik matahari ikut menyumbang sen demi sen yang membuat negeri merlion itu semakin makmur.Apa hubungannya?
Temasek Holdings, yang dikendalikan Ho Ching, istri Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, adalah induk dari Asia Financial Holdings, perusahaan yang mengakuisisi banyak lembaga keuangan di Asia. Nah, Asia Financial ini menguasai 59 persen saham Bank Danamon.
Danamon menguasai 75 persen saham perusahaan pembiayaan terkemuka, PT Adira Dinamika Multifinance Tbk. Salah satu produk Adira ini adalah pembiayaan kredit sepeda motor untuk tukang ojek. Adira meraup untung yang cukup besar dari kredit motor tukang ojek ini.
Jadi, silakan runut sendiri, kira-kira duit dari keringat tukang ojek itu kemudian mengalir ke mana, dengan mengingat rangkaian Adira-Danamon-Asia Financial-Temasek- Singapura.
Terlalu liar? Mungkin ya. Tapi, jangan lupa, Temasek adalah perusahaan investasi yang sangat agresif yang sangat berorientasi pada bisnis, tak peduli di negara mana ia berinvestasi. Temasek menjadi simbol kapitalisme Singapura, yang dengan tentakelnya, sebenarnya, sudah menjajah Asia Tenggara, mungkin sebentar lagi Asia, melalui misinya: menjadi financial hub Asia.
Temasek juga sangat kental dengan kepentingan politik pemerintah Singapura. Ho Ching adalah istri PM Lee Hsien Loong. Direksi lainnya adalah tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan politik. Di perusahaan itu, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden Singapura.
Di Indonesia, Temasek tak hanya mencengkeram melalui Bank Danamon. Sebanyak 50,11 persen saham Astra, perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom), juga sudah digenggamnya melalui Jardine Cycle & Carriage. Padahal, lini bisnis Astra menggurita di banyak sektor melalui Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, dan Astra Credit Company.
Dengan kepemilikan saham di Bank Permata (melalui Astra), Bank Danamon, Bank BII (plus WOM Finance), Temasek mungkin saja berencana menguasai perbankan Indonesia. Lalu, dengan penguasaan saham di Telkomsel dan Indosat, Temasek juga ingin mengendalikan telekomunikasi Indonesia. Jika menguasai perbankan dan telekomunikasi, sebenarnya Temasek (baca: Singapura) sudah menjajah kita, bukan?
Tapi, tahukah Anda, kalau Temasek itu dulunya sebuah kerajaan kecil yang dalam buku sejarah SMP dikenal sebagai Tumasik? Kerajaan ini juga masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit berkat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada.
Sekarang, janganlah membandingkan “kekuasaan” Temasek dengan Indonesia. Tak semata duit para koruptor –yang bisa disimpan aman di sana, dan kini semakin nyaman setelah perjanjian ekstradisi dibatalkan– yang membuat mereka semakin makmur. Bulir-bulir keringat Anda pun, mungkin, semakin memakmurkan mereka.***
14 January, 2008 at 3:58 pm
Hai, ini adalah komentar,
Untuk menghapus komentar, silakan login dan lihat komentar pada postingan, disitu Anda dapat mengedit atau menghapusnya.
21 January, 2008 at 10:42 pm
TOP ABIS, SALUT BIAT PAK ASMADI
12 March, 2008 at 8:20 pm
nice blog Pak, headernya itu lho yang oke…he he he