Archive for January, 2008

Jika Ingin Awet Muda, Teruslah Merokok

29 January, 2008

Jika Ingin Awet Muda, Teruslah Merokok

Asmadi, Tribun Jabar

SAYA tak pernah mengerti mengapa seseorang begitu mencintai rokok. Hanya bakar-bakar duit, merusak kesehatan lagi. Alasan bahwa merokok bisa membuat pikiran jadi fresh, memunculkan ide-ide, memperbaiki mood, serta menghabiskan waktu, tak pernah dibenarkan oleh logika saya. “Itu karena kamu tak pernah merokok. Coba deh, pasti kamu akan suka,” rayu seorang teman yang dalam sehari menghabiskan dua bungkus rokok setara 24 batang.

Maka, ketika mengemuka wacana untuk ‘mengharamkan’ rokok, saya termasuk yang menyambut gembira –meski tak mengerti benar dalil-dalil agama yang dipakai. Saya membayangkan duduk di tempat umum tanpa perlu lagi memasang muka masam kepada orang di sebelah yang terus menerus mengepulkan asap rokoknya, dan dengan terpaksa ikut terhisap oleh tarikan napas saya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang belum mengeluarkan fatwa tentang rokok sebagai barang haram.

Pertimbangannya, kata Ketua MUI Ma’ruf Amin, mudarat lain yang muncul jika fatwa itu dikeluarkan menjadi pemikiran tersendiri. Bagaimana nasib belasan ribu karyawan pabrik rokok di tanah air, bagaimana nasib ribuan petani tembakau.

Sejumlah negara, antara lain Arab Saudi dan Malaysia, sudah mengeluarkan fatwa haram untuk rokok.

Pertimbangannya jelas: merokok merusak kesehatan, lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Namun, seperti kata Ma’ruf Amin, Arab Saudi dan Malaysia tak memiliki kompleksitas permasalahan saat memutuskan fatwa itu. Mereka tak punya pabrik rokok, mereka tak punya petani tembakau.

Terlepas dari ‘mudarat’ yang menjadi risiko jika rokok diharamkan, sesungguhnya lintingan tembakau yang diperkaya dengan beberapa bahan lain itu adalah senjata pembunuh yang diproduksi secara massal di negara ini. Dalam asap rokok terkandung sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya, salah satunya nikotin, yang ketika dihirup satu hingga dua detik kemudian langsung sampai ke susunan saraf otak.

Sebagaimana dipaparkan oleh Irawan Rustandi, Medical Director PT Pfizer Indonesia, dalam sebuah seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu, dari 4.000 bahan kimia itu, lebih dari 250 merupakan toksik atau karsinogenik, antara lain aseton, butan, arsenik (ditemukan pada racun serangga), kadmium (ditemukan pada aki mobil), karnon monoksida (ditemukan pada asap knalpot mobil), dan toluen (pelarut industri). “Merokok juga bisa menyebabkan penyakit kanker paru, jantung iskemik, serta penyakit paru obstruktif atau menahun,” begitu ungkap Irawan. Tentu, tanpa maksud menakut-nakuti para perokok.

Berdasarkan survei, 2 dari 3 pria di Indonesia merokok. Survei lain menunjukkan, rata-rata perokok Indonesia merokok 11 batang atau lebih setiap hari. Dan, 48% merokok 11-20 batang setiap hari. Saat ini angka kematian akibat rokok di dunia mencapai 5 juta jiwa per tahun.Dan, jika kesadaran masyarakat belum saja tumbuh, menurut badan kesehatan dunia WHO, hingga 2020 kematian bisa mencapai 10 juta jiwa per tahun.

Ketika membuat tulisan ini, saya berharap teman-teman di kantor, yang tetap merokok meski sudah ada tulisan besar-besar DILARANG MEROKOK DI RUANGAN INI, ikut membacanya. Jika sampai tidak tersinggung, saya ingin mengungkapkan seloroh lama: merokok bisa menyebabkan awet muda, dan membuat harta benda tetap aman.

Bagaimana bisa? Ya, awet muda, tidak pernah merasakan tua, karena keburu mati di usia muda . Ya, harta benda aman, karena pencuri atau perampok takut menyatroni rumah, lantaran sang perokok batuk-batuk terus sampai pagi.***

Bandung, 16 November 2007

Tatkala Etik Juwita Teriak Stop Bullying

29 January, 2008

Tatkala Etik Juwita Teriak Stop Bullying

Andi Asmadi
Tribun Jabar

ETIK Juwita tidak seterkenal para cerpenis yang sering mengisi rubrik seni dan budaya di media nasional tanah air. Ia hanya seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Blitar, Jawa Timur, yang bekerja di Hongkong. Ia hanya buruh migran yang mencoba memperbaiki hidup dengan bekerja di negeri orang, lalu mencoba menuang pengalaman pribadinya dalam rangkaian cerita yang sebagian adalah fiksi.

Ketika karya fiksinya dimuat di salah satu media nasional yang terbit di Surabaya beberapa waktu lalu, banyak mata yang terbelalak. Ia berhasil menembus seleksi ketat yang diberlakukan media tersebut. Kemampuannya memotret kehidupan para TKW –yang juga dilakoninya– amat layak untuk memperoleh penghargaan.

Etik berhasil mengangkat praktik bullying yang dialami para TKW –nyaris seragam di mana pun mereka berada. Kekerasan dan pelecehan adalah dua bentuk bullying yang amat sering mendera para TKW yang pada umumnya dilakukan oleh sang majikan. Tekanan yang terjadi secara terus menerus pada akhirnya menumbuhkan dendam pada diri TKW untuk kemudian melakukan perbuatan yang sama terhadap sang majikan.

Istilah bullying sejatinya sudah lama tercipta, hanya saja kembali mengemuka beberapa waktu terakhir. Jika majikan melakukan bullying pada TKW telah menjadi hal yang biasa, maka yang tak biasa adalah ketika kita tidak menyadari bahwa kita pun sebenarnya kerap melakukan hal yang sama pada orang lain. Mungkin pada teman, rekan kerja, atau pada keluarga kita sendiri: pada istri, suami, bahkan pada anak-anak kita.

Bullying bisa diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Kejadian seperti itu sangat mungkin terjadi berulang.

Sejumlah ahli kejiwaan membagi praktik bullying dalam tiga kategori. Pertama, fisik, seperti memukul, menampar, dan memalak atau meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya. Kedua, verbal, seperti memaki, menggosip, dan mengejek. Ketiga, psikologis, seperti mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, dan mendiskriminasi.

Dalam cerpen yang berjudul Bukan Yem –yang akhirnya terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh PT Gramedia– Etik Juwita bercerita tentang Sutiyem, seorang pekerja di negeri lain. Etik menggambarkan bagaimana praktik bullying yang dialami Sutiyem menumbuhkan dendam dan ia pun pada akhirnya melakukan perbuatan yang sama.

Sutiyem, yang dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kampung halamannya menggunakan mobil carteran, bercerita tentang perbuatan sadis yang dilakukan seorang temannya sesama TKW: memasukkan anak majikan ke dalam mesin cuci. Ia sendiri melakukan perbuatan yang tak kalah kejamnya: mencampurkan racun tikus ke dalam campuran susu anak majikan.

Kekerasan dalam bentuk fisik, verbal, maupun psikologis memang sangat mungkin menumbuhkan tindak kekerasan yang sama dari korban –bahkan lebih kejam, seperti yang dipotret Etik Juwita melalui cerpennya. Seringkali ketidakberdayaan, melalui sikap tanpa perlawanan, hanyalah kamuflase dari gejolak perlawanan yang lebih besar.

Anak-anak Geng Motor, misalnya, mengekpresikan ketidakberdayaannya saat digojlok oleh para senior dengan melakukan perbuatan yang sama –bahkan lebih kejam– terhadap orang lain saat berada di jalanan. Praktik bullying pada anak sekolah, misal yang lain, akan berdampak pada perilaku sehari-hari. Dan, waspadalah, pukulan atau makian yang berlebihan pada anak Anda sangat berpotensi menumbuhkan gejolak kejiwaan. Bukan hanya melalui tingkah aneh dan urakan, malah ia bisa bunuh diri. Jadi, stop bullying!***

Bandung, 11 Desember 2007

Tak Perlu Pakai Pedang Melawan Sesat

29 January, 2008

Tak Perlu Pakai Pedang Melawan Sesat

Andi Asmadi
Tribun Jabar

TAYANGAN salah satu televisi swasta nasional, Kamis (20/12) tengah malam, tentang jemaah An-Nadzier di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sungguh menarik. Mereka merayakan Idul Fitri dua hari lebih awal dari keputusan pemerintah, dan Idul Adha sehari lebih awal.

Jamaah An-Nadzier adalah komunitas eksklusif yang bermukim pada areal seluas 8 hektare di tepi Danau Mawang, Gowa, yang memercayai gejala alam seperti hujan, angin, guntur, dan pasang surut air sebagai simbol atau petunjuk dalam menetapkan hari- hari besar keagamaan.

Penjelasan Ustad Lukman A Bakti, pimpinan An-Nadzier, tentang praktik beragama yang mereka terapkan, termasuk dalam penetapan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, bisa membuka cakrawala berpikir kita tentang adanya potensi keragaman penafsiran dalam menjalankan syariat.

Dari situ kita juga bisa membingkai kedewasaan berpikir kita dalam menyikapi perbedaan tanpa mengedepankan emosi dan amarah, tanpa perlu menghujat, tanpa perlu melakukan aksi anarkis.

Praktik yang dijalankan An-Nadzier memang berbeda, sangat berbeda, dengan yang dijalankan dan yang dipercayai para jemaah Ahmadiyah, yang pekan-pekan ini mendapat tekanan yang amat kuat dari masyarakat Muslim.

Umat Islam, sebagaimana yang juga diyakini jemaah An- Nadzier, percaya Muhammad sebagai nabi terakhir, dan senantiasa berpegang pada kitab suci Al-Quran.

Sedangkan jemaah Ahmadiyah, sebagaimana dirilis oleh MUI, meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi mereka, yang diturunkan setelah Muhammad. Kitab sucinya pun, bukan Al Quran melainkan Tadzkirah.

Karena itulah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui fatwa yang lahir dari Keputusan Munas MUI No 05/Kep/Munas/MUI/1980, menetapkan Ahmadiyah sebagai “jemaah di luar Islam, sesat, dan menyesatkan”.

Tapi, sebagaimana pernah dilontarkan Prof Dawam Rahardjo, seandainya akidah Ahmadiyah dianggap berbeda, bukankah jemaah Ahmadiyah pun masih berhak “menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya itu”?

Belajar dari pengalaman “menaklukkan” jemaah Al Qiyadah Al Islamiyah beberapa waktu lalu, sekarang menjadi tugas para ulama untuk meluruskan yang salah melalui dialog dan cara-cara persuasif lainnya. Tak perlulah kita memakai pedang untuk mengatasi perbedaan.***

Bandung, 21 Desember 2007

Saya Berdoa Semoga Pak Harto Sembuh

21 January, 2008

Saya Berdoa Semoga Pak Harto Sembuh

Andi Asmadi
Tribun Jabar

BANYAK yang bilang, mantan Presiden RI, Soeharto, sakti. Sudah sempat berhenti nafasnya, ia bisa tetap hidup sampai sekarang. Sudah berkali-kali kritis, ia bisa membaik kembali. “Luar biasa,” kata tim dokter yang hingga Selasa (22/1) ini sudah 19 hari merawatnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta.

Apakah benar Pak Harto –saya lebih suka menyebut sapaan ketimbang menulis utuh namanya– memiliki kesaktian? Wallahua’lam. Tapi, dengan berkali-kali sakit, kritis, bahkan dikabarkan sudah sempat berhenti nafasnya, penguasa Orde Baru ini boleh jadi sudah pernah menapak ke kondisi near death experience (NDE, pengalaman menjelang ajal).

Untuk merasakan NDE, tak perlulah sesakti Pak Harto. Orang biasa sekali pun kerap mengalaminya, meski tak banyak. Kondisi yang biasa disebut mati suri ini diartikan, secara fisik organ- organ sudah tak berfungsi tetapi ruh masih terkait ke tubuh, dan seseorang yang menjalaninya bisa kembali ke kehidupan normal.

Pada kondisi tertentu, seseorang yang mengalami NDE mengalami pula out of body experience (OBE). Ini adalah keadaan di mana seseorang tiba-tiba merasa keluar dari tubuh (disembodiment) dan bisa melihat wujud fisiknya dari jarak tertentu (autoscopy). Bahkan, orang-orang di sekitarnya pun ia lihat dan dengar percakapannya. Sementara wujud fisiknya sendiri dalam keadaan diam, kaku.

Saya teringat pernah membaca di sebuah majalah pengalaman spiritual GM Sudarta, kartunis Kompas yang terkenal dengan Oom Pasikom-nya, yang pekan ini karya-karyanya sedang dipamerkan di ITB. Di situ, ia menceritakan pengalamannya saat tiba-tiba merasakan diri keluar dari tubuh.

Ketika sedang berjalan di Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, ia ditabrak mobil. Kakinya patah. Ia dirawat di RS Cipto Mangunkusumo. Suatu malam, setelah merasakan haus yang saqngat, tiba-tiba ia melihat dirinya sendiri. Ia ketakutan karena mengira dirinya sudah akan mati. Setelah beberapa saat, untungnya, ia bisa kembali masuk ke dalam raganya.

Apa yang terjadi pada Sudarta kemudian? Pria yang bernama lengkap Geradus Mayela Sudarta, lahir di Kauman, Klaten, Jawa Tengah, 20 Februari 1948, mengaku mendapatkan pencerahan dalam hidupnya. Dan, satu hal yang nyata, Sudarta yang awalnya perokok berat, setelah mengalami OBE memutuskan berhenti merokok!

Menurut guru spiritualis Anand Khrisna, pada saat NDE atapun OBE, kita memang bisa saja mengalami hal-hal yang berdampak pada kesehatan jiwa. “Out of body experience bisa menjadi re- programming diri kita, apakah kita menjadi lebih baik atau tidak.” Anand, yang pernah mengalami hal serupa, mengaku menemukan jati dirinya

Nah, kembali ke kondisi Pak Harto, kita tak tahu apakah ia telah sampai pada kondisi NDE, atau bahkan telah mengalami OBE — seperti yang pernah dialami GM Sudarta. Saya sendiri berharap Pak Harto mengalami OBE, dan seperti kata Anand Khrisna, pada dirinya terjadi re-programming sehingga menjadi Soeharto yang lebih baik dari sebelumnya, atau bahkan menjadi Soeharto yang sama sekali baru dalam bersikap dan bertindak.

Itulah sebabnya saya kerap berdoa agar Pak Harto diberi kesembuhan, dan setelah itu ia menjadi manusia baru. Alangkah bahagianya jika duit Rp 350 triliun, yang menurut PBB dan Bank Dunia digaruknya dari rakyat, dikembalikan kepada rakyat. Bayangkan, duit sebanyak itu bisa dipakai untuk apa saja. Bisa untuk pendidikan gratis, bisa juga untuk kesehatan gratis.***

Bandung, 21 Januari 2008

Jenderal Agum di Tengah Sengkarut Politik Jabar

14 January, 2008

Jenderal Agum di Tengah Sengkarut Politik Jabar

Andi Asmadi, Tribun Jabar

SAYA mengenal Agum Gumelar sebagai Panglima Kodam VII/Wirabuana, yang pada September 1997 harus pontang- panting menangani kasus kerusuhan rasial di Makassar. Kematangan dalam melakukan pendekatan teritorial memungkinkan ia menganalisasi kerusuhan sehingga tidak berkembang lebih luas.

Nama Agum beberapa waktu belakangan ini kembali menyentak saya ketika dia “pulang kampung” ke Jawa Barat dan menyatakan kesiapannya untuk bertarung memperebutkan kursi Jabar 01. Ia bahkan telah di-SK-kan oleh DPP PDIP sebagai bakal calon gubernur, berpasangan dengan Rudi Harsa Tanaya, Ketua PDIP Jabar.

Saya tersentak bukan karena kepedulian Agum, sebagai tokoh nasional, untuk kembali ke daerah mengabdikan diri membangun Jabar. Saya tersentak bukan karena Agum melangkahkan kaki dengan menggunakan kendaraan politik PDIP. Saya tersentak bukan karena Agum belakangan ini menyiratkan keengganan berpasangan dengan Rudi dan karena itu, kabarnya, ia “meminta” dipasangkan dengan figur lain.

Saya tersentak karena ada isu miring berseliweran tentang upaya menghadang Agum memasuki pentas politik Jabar. Isu itu menyebutkan ada konspirasi sejumlah elite politik yang melakukan rekayasa untuk secara sistematis mencoba menutup jalan bagi Agum. Jika benar, ini hal serius yang amat sangat perlu dicermati oleh Agum.

Saya percaya pria kelahiran Tasikmalaya, 17 Desember 1945, yang sudah matang di militer dan juga sudah kenyang di politik ini, memiliki kemampuan untuk meretas jalan agar bisa lebih lempang, sebesar apapun batu penghalang yang ada di depannya.

Saya sama percayanya ketika ia bisa mengatasi kerusuhan rasial 16-17 September 1997 di Makassar. Memang ada yang meninggal, puluhan bangunan dan kendaraan dibakar, tapi skala kerusuhan bisa diperkecil.

Kala itu, Benny Karre –seorang pemuda warga keturunan Tionghoa yang mengidap penyakit jiwa– menebas kepala gadis cilik usia 9 tahun, Anni Mujahidah Rasunah, sampai tewas. Kabar yang menyebar adalah ada warga Cina yang membunuh pribumi, ada warga non-Muslim yang membunuh warga Muslim yang baru pulang mengaji.

Kasus terjadi pada 15 September malam dan Makassar sudah membara sejak 16 September dinihari. Aksi massa berkembang menjadi kerusuhan rasial yang diwarnai pembakaran dan pengrusakan di setiap sudut kota. Bahkan, juga terjadi penjarahan.

Saat itulah saya mengenal sosok Agum dengan segala kebajikan dan kebijakannya. Ia bisa saja menerjunkan pasukan dan menghadang massa, namun itu tak ia lakukan. Kalau saja sikap otoriter sebagai seorang jenderal lebih dominan, bisa dibayangkan bagaimana darah akan tumpah di Makassar.

Yang teringat di benak saya kemudian adalah keterharuan Agum pada seorang remaja belasan tahun, tukang becak yang mangkal di Jl Bulukunyi, Makassar.

Saat itu banyak warga melakukan penjarahan. Agum sempat menanyai sang tukang becak, kenapa tidak ikut menjarah pakaian di toko Prima Mode, seperti yang dilakukan warga kebanyakan. Anak itu menjawab, “Barang itu bukan hak saya, itu tidak halal”.

Keesokan harinya, Agum memerintahkan ajudannya mencari si tukang becak dan membawanya ke rumah dinasnya di Jl Sungai Tangka. Penghargaan ia berikan. Ia bahkan menjadikan si remaja tukang becak sebagai anak angkat dan memboyongnya ke Bandung untuk disekolahkan di sini.

Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, saya sungguh percaya, Agum mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat ketika melangkahkan kaki ke ranah politik Jabar. Ia tak akan termakan oleh provokasi yang bagaimanapun panasnya, serta tak akan terjebak oleh silang sengkarut manuver politik yang pada pekan- pekan ini semakin panjang membelit.

Saya tidak menempatkan diri sebagai pemihak Agum pada Pilkada Jabar 2008 ini. Tapi, dengan kendaraan partai manapun akhirnya Agum bertarung memperebutkan Jabar 01, akan menjadi hal yang tragis jika ia gagal di daerahnya sendiri. Baik gagal untuk menjadi calon gubernur, apatah lagi gagal saat sudah menjadi calon gubernur. Ingat jenderal, jalan kelam di pentas politik nasional dan DKI membayangi.****

Keringat Anda (Juga) Memakmurkan Singapura

14 January, 2008

Keringat Anda (Juga) Memakmurkan Singapura

Andi Asmadi, Tribun Jabar

KEPUTUSAN Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menghukum Temasek Holdings (BUMN investasi Singapura) dan kawan-kawan, dalam kaitan kasus monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di industri telekomunikasi Indonesia, mengingatkan saya pada “pikiran liar” seorang teman.

Ia menulis tentang keterkaitan tukang ojek di Jakarta, dan kota-kota besar di tanah air, dengan kemakmuran Singapura. Katanya, tukang ojek –yang kini laris manis di tengah kemacetan Jakarta– bersama keringatnya di terik matahari ikut menyumbang sen demi sen yang membuat negeri merlion itu semakin makmur.Apa hubungannya?

Temasek Holdings, yang dikendalikan Ho Ching, istri Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, adalah induk dari Asia Financial Holdings, perusahaan yang mengakuisisi banyak lembaga keuangan di Asia. Nah, Asia Financial ini menguasai 59 persen saham Bank Danamon.

Danamon menguasai 75 persen saham perusahaan pembiayaan terkemuka, PT Adira Dinamika Multifinance Tbk. Salah satu produk Adira ini adalah pembiayaan kredit sepeda motor untuk tukang ojek. Adira meraup untung yang cukup besar dari kredit motor tukang ojek ini.

Jadi, silakan runut sendiri, kira-kira duit dari keringat tukang ojek itu kemudian mengalir ke mana, dengan mengingat rangkaian Adira-Danamon-Asia Financial-Temasek- Singapura.

Terlalu liar? Mungkin ya. Tapi, jangan lupa, Temasek adalah perusahaan investasi yang sangat agresif yang sangat berorientasi pada bisnis, tak peduli di negara mana ia berinvestasi. Temasek menjadi simbol kapitalisme Singapura, yang dengan tentakelnya, sebenarnya, sudah menjajah Asia Tenggara, mungkin sebentar lagi Asia, melalui misinya: menjadi financial hub Asia.

Temasek juga sangat kental dengan kepentingan politik pemerintah Singapura. Ho Ching adalah istri PM Lee Hsien Loong. Direksi lainnya adalah tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan politik. Di perusahaan itu, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden Singapura.

Di Indonesia, Temasek tak hanya mencengkeram melalui Bank Danamon. Sebanyak 50,11 persen saham Astra, perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom), juga sudah digenggamnya melalui Jardine Cycle & Carriage. Padahal, lini bisnis Astra menggurita di banyak sektor melalui Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, dan Astra Credit Company.

Dengan kepemilikan saham di Bank Permata (melalui Astra), Bank Danamon, Bank BII (plus WOM Finance), Temasek mungkin saja berencana menguasai perbankan Indonesia. Lalu, dengan penguasaan saham di Telkomsel dan Indosat, Temasek juga ingin mengendalikan telekomunikasi Indonesia. Jika menguasai perbankan dan telekomunikasi, sebenarnya Temasek (baca: Singapura) sudah menjajah kita, bukan?

Tapi, tahukah Anda, kalau Temasek itu dulunya sebuah kerajaan kecil yang dalam buku sejarah SMP dikenal sebagai Tumasik? Kerajaan ini juga masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit berkat Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada.

Sekarang, janganlah membandingkan “kekuasaan” Temasek dengan Indonesia. Tak semata duit para koruptor –yang bisa disimpan aman di sana, dan kini semakin nyaman setelah perjanjian ekstradisi dibatalkan– yang membuat mereka semakin makmur. Bulir-bulir keringat Anda pun, mungkin, semakin memakmurkan mereka.***